SEJARAH PUSDIKLATCAB DAN RAKIT KULIM
Diposting oleh : Kaharudin regular | Tanggal : Sabtu, 29 April 2017

INHU ( kwardariau.org ) Pusdiklatcab Inhu adalah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Rakit Kulim Tingkat Cabang Indragiri Hulu, berdiri sejalan dengan berdirinya pandu di tanah Indragiri hingga Gerakan Pramuka berdiri di Indonesia,  Kapusdilat atau Korp Pelatih pertama H. Alinas, kemudian di jabat oleh Abdul Razak Nur, S.S hingga tahun 2012 sebagai pelaksana, setalah itu Kapusdiklatcab di jabat oleh Idrus Alinas masa bakti 2012-2017.

Nama pusdiklatcab Indragiri Hulu di usulkan oleh sekretaris pusdiklatcan Kak Kaharudin setelah di koordinasikan kepada sesepuh pramuka Inhu, dan pada pelaksanaan KMD dan KML di Seberida tepatnya pada hari Kamis, tanggal 28 November 2013 di MA Al-Ihsan Buluh Rampai yang hadiri oleh pelatih pada waktu itu di antaranya; Kak Indrus Akinas (Ka.Pusdiklatcab), Kak Kaharudin, S.Pd.I (Sekertaris Pusdiklatcab), Kak Herman Susilo, Kak Abdul Razak Nur, S.S, Kak Budio F, S.Pd, dan Kak Muhammad Mustofa, S.Pd.I di tetaplah Rakit Kulim sebagai nama psudiklatcab Inhu.

Sejarah Rakit Kulim  serta 17 Perselisihan Datuk Patih Dengan Datuk Temenggung Kuning.

Melihat keadaan rakyat di Kerajaan Kelayang sudah semakin parah, Datuk Patih segera mengundang Datuk Temenggung Kuning untuk diajak bermusyawarah diatas sebuah bukit yang letaknya tidak terlalu jauh dari Istana Kerajaan Kelayang. Dalam pertemuan tersebut Datuk Patih menyampaikan penderitaan yang dialami oleh rakyat di Kerajaan Kelayang akibat banyaknya pengungsi yang masuk dari Kerajaan Melayu Jambi.  

Datuk Patih minta saran dan pendapat dari Datuk Temenggung Kuning agar dapat mencarikan jalan yang terbaik sehingga masalah yang sedang dihadapi oleh rakyat dan Kerajaan Kelayang dapat segera diselesaikan.

Harapan kita ketika menyerahkan Kerajaan Kelayang kepada Raja di Kerajaan Malaka Raya,semua masalah yang dihadapi rakyat dan Kerajaan Kelayang ini dapat diselesaikan oleh Raja Malaka Raya.Namun nyatanya setelah kita menunggu selama 198 tahun Raja Malaka Raya tidak dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Memang Raja Malaka Raya menerima penyerahan Kelayang dan telah menunjuk empat orang putranya untuk menjadi Raja di Kerajaan Kelayang tetapi tidak  menyelesaikan masalah yang ada.Karena Raja Raja yang telah ditunjuk yaitu pertama,Kedua dan Ketiga tidak pernah datang dan menetap diKerajaan Kelayang sehinga mereka tidak tahu dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat yang ada di Kerajaan Kelayang ini.

Datuk Patih melanjutkan Saat ini Raja Malaka Raya telah menobatkan Raja Narsinga Dua menjadi Raja Ke Empat di Kerajaan Kelayang.Menurut hamba,satu satunya jalan untuk menyelamatkan rakyat dan Kerajaan Kelayang ini dari penderitaannya , kita harus menjemput Raja Narasinga Dua ke Kerajaan Malaka Raya dan kita bawa pulang ke Kerajaan Kelayang. Untuk itu hamba minta saran dan pendapat dari Datuk Temenggung.Bagaimana menurut pendapat Datuk Temnggung  ?

Namun Datuk Temenggung tidak ada memberikan jawaban dan Ia tetap menundukkan kepalanya.Melihat keadaan ini kembali Datuk Patih mengulangi perta-nyaannya sebagai berikut  :

Kelaut nak tentu riaknya,Ke Darat nak tentu debuknya

Kalau bertampuk nak di jinjing , Kalau bertali nak diseret , Apa keputusan Datuk Temenggung  ?

Tanpa memberikan jawaban sepatah katapun Datuk Temenggung Kuning mengorak sila mengatur langkah berjalan perlahan lahan meninggalkan tempat musyawarah menuju kerimba yang tidak jauh jarak-nya dari tempat musyawarah tersebut,hilang tak tentu rimbanya.

Datuk Temenggung Kuning berbuat demikian karena Ia merasa malu dan merasa bersalah.Sebagai seorang pembesar yang telah diberi kepercayaan dan kekuasa-an penuh oleh Raja untuk melaksanakan roda Pemerin-tahan di Kerajaan Kelayang Ia tidak mampu melindu-ngi dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh rakyatnya.Oleh sebab itu Ia memilih lebih baik diam dari pada memberi komentarnya.

Sejak saat itu Bukit tempat Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning mengadakan Musyawarah oleh Datuk Patih dinamakan BUKIT BERTINGKAH agar anak cucu dikemudian hari tahu bahwa ditempat itu pernah terjadi perbedaan pendapat dan salah faham dari dua orang pembesar Kerajaan Kelayang.-

Perbedaan dan kesalah fahaman dari kedua pembesar Kerajaan Kelayang itu dilukiskan dalam bentuk Pan-tun sebagai berikut  :

                Bertingkah Patih dengan Temenggung

            Tingkah terjadi di Bukit Bertingkah

            Niat Patih tetap berlangsung

            Tinggal Temenggung menyerah kalah

 

                Rakit Kulim dari Kelayang

            Arah menuju Kota Melaka

            Datuk Temenggung tinggal seorang

            Patih berangkat menjemput Raja

 

Karena musyawarah mengalami jalan buntu dan Datuk Temenggung Kuning tidak mau mendukung rencana-nya menjemput Raja Ke Malaka,maka Datuk Patih mengambil keputusan untuk menjemput Raja Narasi-nga Dua ke Kerajaan Malaka Raya.

Setelah mengambil Keputusan tersebut Datuk Patih segera memerintahkan hamba Kerajaan untuk mencari tukang dan orang yang pandai untuk membuat sampan / Perahu da mereka diharapkan hadir pada pertemuan mendatang di Istana Kerajaan Kelayang.

Pada hari yang sudah ditentukan semua tukang tukang tersebut sudah hadir di Istana Kerajaan Kelayang bersama dengan para pembesar Kerajaan.Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Datuk Patih.Dalam pertemuan tersebut Datuk Patih menjelaskan maksud-nya untuk Menjemput Raja Ke Kerajaan Malaka Raya.

Sarana transportasi yang akan dipergunakan untuk menjemput Raja adalah Rakit dan beberapa buah perahu untuk para pengawal.Selanjutnya Datuk Patih menjelaskan secara rinci tentang bentuk rakit dan perahu yang akan dibuat serta tekhnis pembuatannya sebagai berikut  :

 

  1. Rakit yang dimaksudkan adalah tiga buah perahu besar yang digabung menjadi satu.Diatas ketiga perahu tersebut diberi lantai dan diatas lantai diberi bangunan rumah rumah dua tingkat.Lantai dasar akan dipergunakan untuk para pendayung dan anak buah perahu,Perbekalan dan Persenjataan.

Lantai ke Dua akan dipergunakan untuk tempat beristirahat bagi pembesar Kerajaan yang ikut da-lam rombongan tersebut.Sedangkan KeTiga(diatas) akan ditempati oleh Raja dan Juru Mudi.Atas petun juk Datuk Patih bahan yang akan diper-gunakan untuk membuat Rakit dan Perahu semua dari Kayu Kulim yaitu sejenis Kayu yang terkenal sangat keras sehingga dapat menahan hempasan ombak.

     Untuk atap bangunan rumah yang ada diatas Rakit dan Perahu dibuat dari ijuk Enau yang dijalin sehingga tidak mudah rusak dan dapat bertahan dari terjangan angin laut yang kencang.

  1. Semua Perahu yang akan dibuat bentuknya sama hanya ukurannya saja yang berbeda.Perahu yang akan dibuat untuk Rakit berukuran besar, sedangkan Perahu untuk Pengawal berukuran sedang.                                                                     

     Untuk memecahkan hantaman ombak,haluan pera-hu dibuat runcing sehingga tidak mempengaruhi lajunya / kecepatan Perahu. Lambung Perahu dibu-at lebar bagaokan punggung Penyu agar tidak oleng dan tidak mudah tenggelam.Sedangkan pada bagian belakang / Buritan dibuat bagaikan ekor itik.Bila dilihat secara keseluruhan dari sampaing perahu ini bagaikan mayang pinang yang belum pecah.Untuk menghemat tenaga para pendayung,disetiap perahu diberi tiang untuk layar sehingga ketika angin datang mereka dapat beristirahat melepas lelah.

     Pada haluan Perahu yang berada ditengah Rakit dibuat ukiran Naga menganga sedang menjulurkan lidah dan di puncak tiang utama layar dipasang Panji / Bendera  berlambang Naga menganga yang menjulurkan lidah berwarna kuning keemasan. Selembayung rumah rumah diatas Rakit juga dibuat ukiran Naga yang sama .Sedangkan dibawah cucuran atap dibuat ukiran lebah begayut berwarna kuning,menandakan bahwa yang ada diatas Rakit Perahu tersebut adalah Raja dan Pembesar Kerajaan.                                                        

3.  Untuk Perahu para Pengawal bentuknya sama dengan perahu yang ada di Rakit,juga diberi rumah rumah dan tiang layar.Bedanya bila dipuncak tiang layar perahu diatas Rakit dipasang ukiran Naga menganga,dipuncak tiang Perahu para pengawal nantinya dipasang Panji / Bendera kebesaran dari pembesar yang ada didalam perahu tersebut.                             

Untuk menjaga keseimbangan dikiri kanan perahu pengawal dibuat / ditambah dengan perahu perahu kecil yang dihubungkan dengan perahu induknya agar tidak mudah terbalik bila diterjang ombak.

4.  Perahu yang dibuat berjumlah 17 (tujuh belas) perahu dengan perincian tiga buah perahu besar untuk rakit dan empat belas buah perahu lainnya untuk para pengawal.

5.  Khusus untuk membuat Pengayuh ( Dayung ) Datuk Patih memberi petunjuk agar dibuat dari Kayu Bungur yaitu sejenis kayu yang ringan,liat serta tidak mudah patah sehingga para pengayuh dapat menghemat tenaga.

     Sedangkan untuk penggalah Datuk Patih memilih jenis Buluh Belang ( Bambu Harimau ) yang terkenal liat dan tidak mudah patah.Pada pangkal bambu galah tersebut agar diberi cabang kayu yang dimasukkan kedalam pangkal galah sehingga tidak akan meleset dan mudah mempergunakannya. Demikianlah petunjuk yang telah diberikan oleh Datuk Patih.

Setelah memberikan petunjuk kepada para tukang dan pembuat perahu tentang tekhnis pembuatan perahu dan rakit serta bahan bahan yang akan dipergunakan, kemudian Datuk Patih membagi bagi tugas kepada seluruh peserta musyawarah . Pembagian tugas disesuaikan dengan ketrampilan dan keahlian serta kewenangan yang ada pada mereka.                                    

Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan yang besar ini Datuk Patih menunjuk beberapa Pembesar Keraja-an Kelayang menjadi Koordinator pelaksanaan pekerja an.Mereka yang ditunjuk adalah sebagai berikut  :

  1. Pejabat yang mewakili Datuk Temenggung bertugas dan bertanggung jawab untuk memilih dan menye-leksi pembesar Kerajaan Kelayang pantas untuk dibawa menjemput Raja.

 

  1. Datuk Bendahara bertugas dan bertanggung jawab untuk menyiapkan segala perbekalan,perlengkapan dan persenjataan yang diperlukan rombongan.

 

  1. Panglima Besar Kerajaan bertugas dan bertang-gung Jawab atas keselamatan seluruh rombongan. Untuk itu Datuk Patih memerintahkan Panglima Besar Kerajaan memilih dan menyeleksi prajurit Kerajaan yang benar benar handal untuk dijadikan pengawal rombongan yang akan berangkat.

 

  1. Sedangkan Datuk Patih memimpin langsung para pekerja / Tukang yang akan membuat perahu dan Rakit untuk membawa semua rombongan.Datuk Patih memberikan waktu enam bulan untuk menye-lesaikan semua pekerjaan tersebut.

 

Datuk Patih mengharapkan kepada mereka dapat melaksanakan tugas yang dipercayakan dengan sebaik baiknya dan dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih Datuk Patih menutup musyawarag tersebut.

Keesokan harinya terlihat kesibukan di sekitar Istana Kerajaan Kelayang terutama di Daerah Batu Kerbau yang yang berada disebelah hilir Istana.Ditempat ini terlihat banyak pekerja yang sedang mengumpulkan bahan kayu dan papan dan ada pula yang sudah mulai melaksanakan pekerjaannya mengolah kayu dan papan yang akan dibuat untuk Rakit dan Perahu.Pekerjaan tersebut dipimpin langsung oleh Datuk Patih.

Didalam lingkungan Istana juga terjadi kesibukan memilih dan menyeleksi pembesar Kerajaan yang akan ikut menjemput Raja yang dilakukan oleh Pejabat Kerajaan yang mewakili Datuk Temenggung Kuning.

Sedangkan Datuk Bendahara memberikan pengarahan kepada stafnya untuk menyiapkan segala perbekalan dan perlengkapan serta persenjataan yang diperlukan oleh rombongan yang akan berangkat menjemput Raja ke Kerajaan Malaka Raya.

Didepan halaman Istana terlihat Panglima Besar Kerajaan dibantu oleh stafnya sedang sibuk memilih dan menyeleksi Prajurit Kerajaan yang akan dipilih menjadi pengawal rombongan menjemput Raja.Para Pejabat,Pekerja maupun Prajurit yang sudah terpilih ini melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat. Mereka merasa sangat terhormat mendapat kepercaya-an melakukan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka.

Apa lagi dalam melakukan pekerjaan tersebut mereka mendapat bimbingan dan petunjuk langsung dari Pembesar Kerajaan.Berkat kerja keras para pekerja tersebut pekerjaan membuat badan Perahu dan Rakit telah dapat diselesaikan oleh mereka.Datuk Patih meme rintahkan petugas Kerajaan memberi tahu masyarakat untuk bergotong royong membantu menurunkan Perahu dan Rakit yang sudah selesai dikerjakan Ke Sungai Keruh.

Pada hari yang sudah ditentukan rakyat berbondong bondong datang ketempat pembuatan Perahu dan Rakit untuk membantu menurunkannya ke Sungai Keruh.Dalam waktu sekejap pekerjaan menurunkan Perahu dan Rakit sudah dapat diselesaikan.Selanjutnya Datuk Patih memerintahkan tukang tukang untuk melanjutkan pekerjaannya membuat rumah rumah dan Tiang Layar serta perahu perahu kecil dikiri kanan perahu untuk menjaga keseimbangannya agar tidak mudah terbalik bila dihantam gelombang.

Selesai memberikan petunjuknya kepada tukang tu-kang Datuk Patih kembali ke Istana untuk melihat kesiapan para pengawal yang sedang mengadakan lati-han Bela Diri dengan tangan kosong maupun dengan mempergunakan berbagai jenis senjata tajam. Latihan dipimpin langsung para Panglima Kerajaan dan men-dapat pengawasan langsung dari Panglima Besar Kerajaan.Melihat kesiapan dan ketrampilan para Pengawal, Datuk Patih merasa sangat puas dan mengharapkan kepada mereka agar lebih giat berlatih sehingga nantinya mereka benar benar dapat dian-dalkan untuk menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan selama dalam perjalanan.                                       Selanjutnya Datuk Patih melakukan peninjauan keba-hagian perbekalan dan perlengkapan yang menjadi tanggung jawab dari Datuk Bendahara.Melihat persia-pan yang telah dilakukan oleh Datuk Bendahara selaku penanggung jawabperlengkapan untuk semua rombo-ngan,Datuk Patih merasa sangat puas,karena Datuk Bendahara Kerajaan telah berhasil menyiapkan berba-gai keperluan untuk rombongan yang akan menjemput Raja ke Kerajaan Malaka Raya.

Perlengkapan yang telah disiapkan oleh Datuk Benda-hara Kerajaan adalah  :  Bahan makanan;Tong Air bersih ; Peralatan untuk memasak ; pakaian untuk Pembesar Kerajaan ; Prajurti dan Anah Buah Perahu ; Persenjataan ; Dayung ; Galah ; Layar ; Panji Panji  Kebesaran Kerajaan Kelayang.Karena perjalan dari Kerajaan Kelayang Ke Kerajaan Malaka Raya mema-kan waktu yang cukup lama,agar tidak membosan-kan,Datuk Patih memerintahkan Datuk Bendahara Kerajaan juga menyiapkan peralatan kesenian lengkap dengan para pemain dan penarinya serta berbagai jenis binatang yang sudah jinak jinak sehingga dapat diajak bermain sebagai hiburan selama dalam perjalanan sehingga tidak membosankan.

Berkat Kerja Keras dan kesadaran yang tinggi serta rasa tanggung jawab dari seluruh aparat yang terlibat dalam pekerjaan ini,akhirnya seluruh pekerjaan dapat diselesaikan lebih awal dari waktu yang telah ditetap-kan oleh Datuk Patih.Setelah melihat segala pekerjaan dan keperluan siap,Datuk Patih melakukan Semedi memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa dan para leluhur mencari hari yang baik menjemput Raja Ke Kerajaan Malaka Raya.  

 

18.  Rakit Kulim Menjemput Raja Narasinga Dua Ke Kerajaan Malaka Raya.

Sesuai dengan petunjuk yang telah diterima Datuk Patih pada waktu dan hari yang sudah ditetapkan pagi pagi sekali rakyat dan pembesar Kerajaan Kelayang sudah hadir di Batu Kerbau tempat ditambatkannya Rakit dan semua Perahu untuk mengikuti jalannya acara melepas keberangkatan rombongan yang akan berangkat menjemput Raja Ke Kerajaan Malaka Raya.

Semua yang hadir ditempat dilaksanakannya acara tersebut mereka menjadi terpesona dan kagum melihat kemegahan dan keindahan Rakit serta Perahu perahu Pengawal.Sesuai dengan perintah yang telah diberikan oleh Datuk Patih sehari sebelum dilaksanakannya acarakeberangkatan,seluruh personil yang akan ikut dalam rombongan tersebut termasuk dirinya sudah harus berada di Rakit ataupun Perahu perahu yang akan dinaiki oleh mereka.

Hal itu dimaksudkan oleh Datuk Patih agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.Malam itu Datuk Patih memerintahkan semua personil  yang ada di Rakit maupun Perahu untuk menghiasi dan memasang Panji panji Kebesaran Kera-jaan Kelayang dan Panji Panji Kebesaran pembesar Kerajaan diperahunya masing masing . Selanjutnya Datuk Patih memerintahkan seluruh personil memakai pakaian kebesaran sesuai dengan jabatan mereka masing masing dan sebelum terbit fajar sudah berbaris rapi diatas kenderaannya.

Rombongan yang akan berangkat ini bagaikan angkatan perang dari satu Kerajaan Besar.Hal ini memang disengaja oleh Datuk Patih agar selama dalam perjalanan pergi dan pulang ke Kerajaan Malaka Raya agar rombongan ini tidak akan mendapat gangguan para perompak dan lanun yang banyak berkeliaran disepanjang Selat Malaka,sekaligus untuk unjuk kemampuan agar orang lain tidak menganggap remeh kepada Kerajaan Kelayang.Semua ini dapat terlaksana berkat perencanaan yang matang dari Datuk Patih bersama para pembantunya juga kesadaran yang tinggi dari seluruh personil dan pekerja.

Dalam acara pelepasan tersebut Datuk Patih memohon do’a restu dari seluruh rakyat yang ada di Kerajaan Kelayang terutama kepada seluruh sanak keluarga dari rombongan yang akan berangkat agar rombongan dapat selamat pulang pergi sehingga dapat berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.

Dengan iringan lambaian tangan dari sanak keluarga dan rakyat di Kerajaan Kelayang Simpul tali pengikat Rakit di Batu Kerbau mulai dilepas begitu pula halnya dengan tali pengikat perahu perahu juga dilepas.

Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini sebelumnya Datuk Patih bersama Panglima Besar Kerajaan telah mengatur posisi perjalan Rakit dan perahu perahu sebagai berikut  :

 

  1. Perjalanan rombongan didahului oleh sebuah perahu pengawal yang menjadi penunjuk jalan.
  2. Pada barisan kedua ditempati oleh dua buah Perahu Pengawal.
  3. Barisan ke tiga ditempati oleh tiga buah Perahu Pengawal.
  4. Dibarisan Ke Empat ditempati oleh Rakit dan kiri kanan Rakit masing masing diapit oleh sebuah Perahu Pengawal.
  5. Dibarisan Ke Lima yang berada dibelakang Rakit ditempati oleh tiga buah Perahu Pengawal.
  6. DibarisanKe Enam diisi oleh dua buah Perahu Pengawal.
  7. Dan Barisan Ke tujuh diisi oleh sebuah Perahu Pengawal.

 

Posisi ini harus tetap dipertahankan oleh mereka selama melakukan perjalanan Ke Kerajaan Malaka Raya dan pulang Ke Kerajaan Kelayang.Hal ini dimak-sudkan bila ada serangan ombak ataupun Perompak mereka dapat saling dapat bantu membantu sehingga perjalan akan selamat.

Dalam perjalanan ke Kerajaan Malaka Raya ini Datuk Patih dan rombongannya menyempatkan diri untuk menyinggahi Kampung Kampung yang dilewati yang berda disepanjang aliran Sungai Keruh untuk mengeta-hui keadaan masyarakat disetiap daerah yang akan dilaporkannya kepada Raja Narasinga Du di Kerajaan Malaka Raya.

Disetiap Kampung yang disinggahi Datuk Patih selalu menanyakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat kemudian memberikan petunjuk kepada Kepala Kampung dan Pemuka Masyarakat bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Setelah memberikan petunjuknya Datuk Patih memo-hon diri seraya memohon do’a restu dari rakyat setem-pat untuk melanjutkan perjalanannya.

 

  1. Keadaan Dikerajaan Malaka Raya

 

Kita tinggalkan sejenak perjalanan Datuk Patih dengan rombongan Rakit Kulimnya,selanjutnya marilah kita ikuti perkembangan yangterjadi di Kerajaan Malaka Raya khususnya yang tengah menimpa diri RAJA NARASINGA DUA gelar PADUKA MAULANA SRI SULTAN ALAUDIN ISKANDARSYAH JOHAN ZIRULLAH FIL ALAM Raja Ke Emapat Kerajaan Kelayang yang akan dijemput oleh Datuk Patih dengan rombongan Rakit Kulimnya.

Pada waktu itu Raja Narasinga Dua hatinya sedang gundah gulana karena kekasihnya yang bernama TUN GEMALA yang mempunyai nama sanjungan BULAN MENGAMBANG dipaksa menikah dengan RAJA MAHMUD Ke Dua.Raja Mahmud Ke Dua adalah saudara sepupu dari Raja Narasinga Dua yang menjadi Raja di Kerajaan Malaka Raya pada waktu itu.

Perangai Raja Mahmud ke Dua ini sangat buruk, kerjanya hanya berfoya foya dan bersenang senang dengan perempuan cantik,tidak mau peduli dengan keadaan rakyatnya.Bila melihat perempuan cantik akan diambilnya secara paksa,meskipun perempuan tersebut sudah ada yang punya. 

Bahkan istri orang sekalipun akan diambilnya secara paksa,sehingga keadaan Kerajaan Malaka Raya pada waktu itu sangat kacau balau karena dikuasai dan dikendalikan oleh orang orang penjilat yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.

Keadaan tersebut membuat prihatin para pembesar Kerajaan yang masih setia namun mereka tidak dapat berbuat apa apa.Keadaan ini makin diperburuk lagi dengan adanya Armada Perang Portugis dan Armada Perang Belanda serta para Perompak yang selalu mem-buat kerusuhan di Selat Malaka dan daerah daerah sekitarnya karena mereka ingin menguasai jalur pelaya ran dan perdagangan yang sangat ramai di Selat Malaka.

 

  1. Datuk Patih Dan Rombongan Rakit Kulim Tiba Di Kerajaan Malaka Raya.

 

Setelah melakukan perjalanan jauh dan memakan waktu yang cukup lama serta sangat melelahkan, disuatu pagi yang cerah akhirnya Rombongan Rakit Kulim pimpinan Datuk Patih sampai di Ibu Kota Kerajaan Malaka Raya dan langsung merapat ke pelabuhan.Kedatangan rombongan Rakit Kulim yang merapat ke Pelabuhan ini membuat heboh rakyat di Ibu Kota Kerajaan Malaka Raya Karena rombongan Rakit Kulim ini bagaikan satu Armada Perang dari sebuah Kerajaan Besar.Sedangkan keadaan di Kera-jaan Malaka Raya saat itu sedang kacau oleh tingkah laku para pembesarnya.serta kehadiran berbagai arma-da perang dari Belanda,Inggris dan Portugis serta Perompak yang sering membuat keonaran di Selat Malaka dan daerah daerah sekitarnya. 

 Petugas Pelabuhan segera melaporkan kedatangan Datuk Patih dan rombongan Rakit Kulim ini kepada TUN KECIK yang menjadi orang kepercayaan dari Raja Narasinga Dua.Mendapat laporan tersebut Tun Kecik segera ke Pelabuhan untuk membuktikan kebenaran laporan dari pejabat pelabuhan tersebut.

Sesampainya di pelabuhan Tun Kecik menjadi terpeso-na melihat kemegahan rombongan Rakit Kulim ini. Kebetulan ketika Tun Kecik sampai dipelabuhan, seluruh awak Rakit dan awak Perahu berpakai kebesa-ran masing masing dan para pengawal yang berpakaian lengkap bersenjata berbaris di Pelabuhan sedang mene-rima pengarahan dari Datuk Patih.

Keadaan mereka pada waktu itu seolah olah sudah siap tempur.Setelah memberikan pengarahannya Datuk Patih mempersilahkan mereka bubar dan beristirahat. Setelah Datuk Patih selesai memberikan pengarahan Tun Kecik segera menghampiri Datuk Patih dan terjadilah tanya jawab antara Tun Kecik dengan Datuk Patih sebagai berikut  :

 

Tun Kecik      :    Dari apa terbuat Rakit  ?

Datuk Patih     :    Rakit terbuat dari Kayu.

Tun Kecik      :    Dari mana datangnya Rakit  ?

Datuk Patih     :    Rakit datang dari Kelayang.

Tun Kecik      :    Siapa Nama orang di Rakit  ?

Datuk Patih     :    Kecik belum bernama,lah besar belum Bergelar.-

Tun Kecik      :    Apa maksud orang di Rakit  ?

Datuk Patih     :    Menjemput Raja Narasinga Dua, Paduka Sri Sultan Alaudin Iskandarsyah

                            Johan zirullah Fil Alam Sultan Ke Empat Kerajaan Kelayang.

 

Setelah mendapat jawaban yang jelas dari orang yang ada di Rakit tentang maksud kedatangannya di Kera-jaan Malaka Raya,Tun Kecik mempersilahkan Datuk Patih dan Pembesar Kerajaan Kelayang ikut bersama-nya untuk menghadap Raja Narasinga Dua Ke Istana Kerajaan Malaka Raya.

Pada waktu Tun Kecik dan rombongan orang Rakit Kulim datang menghadap,Rja Narasinga Dua sedang menikmati udara pagi yang segar ditaman sari Kera-jaan Malaka Raya untuk menghibur hatinya yang sedang gundah gulana.

Tun Kecik segera melaporkan maksud kedatangan orang Rakit Kulim dari Kerajaan Kelayang ke Kera-jaan Malaka Raya kepada Raja Narasinga Dua. Mendengar laporan dari orang kepercayaannya terse-but Raja Narasinga Dua segera memerintahkan Tun Kecik mempersilahkan Datuk Patih dari Kerajaan Kela yang menghadap kepadanya.

Pada waktu menghadap Raja Narasinga Dua Datuk Patih menceritakan keadaan yang sedang dihadapi oleh rakyat dan Kerajaan Kelayang akibat Expedisi Pama-layu Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari ke Kerajaan Melayu Jambi yang letaknya berbatasan dengan wilayah Kerajaan Kelayang.

Karena Pati dan pembesr Kerajaan merasa tidak mampu mengatasi keadaan ini,Patih mohon kesediaan Raja Narasinga Dua ikut bersamanya ke Kerajaan Kelayang agarsegala permasalahan yang ada segera dapat diatasi.Pembicaraan yang terjadi antara Datuk Patih dengan Raja Narasinga Dua dilukiskan sebagai berikut  :

 

   Ampun Patik kebawah Duli Tuanku

   Negeri lah lama tak berpenghulu

   Tebing bertingkat tak diikat dengan janji

   Rantau diturut tidak dengan undang undang

 

   Dusun lah lama melaras

   Nan patah tak tumbuh lagi

   Nan hilang tak berganti

   Nan tenggelam tak timbul lagi

 

Untuk itu hamba dan rakyat di Kerajaan Kelayang berdatang sembah kehadapan Tuanku memohon  :

 

Nan patah minta ditumbuhkan

   Nan hilang minta diganti

   Nan tenggelam minta ditimbulkan

   Nan usang perlu diperbaharui

                                      

Begitu mendengar laporan Datuk Ptih Kerajaan Kelayang tentang penderitaan yang sedang dialami oleh rakyatnya serta mendengar permintaan dari rakyatnya yangsangat mengharapkan kesediaannya datang menetap bersama mereka di Kerajaan Kelayang,Raja Narasinga Dua berkata : “ Segala permintaan dan kepentingan rakyatku yang ada di Kerajaan Kelayang selalu kujunjung tinggi.Untuk itu mari kita segera berangkat malam ini juga ke Kerajaan Kelayang “.

Demikian jawaban Raja Narasinga Dua kepada Patih.Mendengar jawaban Raja Narasinga Dua Patih segera menghaturkan sembah seraya berkata  :

 

“ Ampun beribuampun Tuanku,hamba merasa sangat gembira mendengar kesediaan Tuanku ikut bersama kami ke Kerajaan Kelayang.Namun kami mohon kehadapan tuanku agar keberangkatan ke Kerajaan Kelayang dapat ditunda beberapa hari lagi guna memberi kesempatan kepada seluruh awak perahu  beristirahat melepaskan lelahnya sambil melihat indah-nya Kota Malaka untuk menambah wawasan mereka. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersila turrahmi dengan penduduk Kota Malaka melalui pagelaran kesenian rakyat Kerajaan Kelayang bertem-pat di pelabuhan.Selain dari pada itu memberi kesempa tan kepada awak perahu untuk memperbaiki perahu yang rusak serta menambah perbekalan “

Mendengar permintaan Datuk Patih yang sangat bera-lasan Raja Narasinga Dua dapat menyetujuinya. Karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan Datuk Patih dan rombongannya memohon diri kembali ke Rakit.                                            

Sesampainya di Rakit Datuk Patih menyampaikan kabar gembira itu kepada semua rombongan bahwa Raja Narasinga Dua bersedia ikut bersama mereka pulang keKerajaan Kelayang.Untuk itu Datuk Patih mengharapkan agar mereka dapat menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan yaitu dengan menambah perbekalan serta memperbaiki perahu perahu yang mungkin rusak,agar perjalanan mereka tidak ada hambatan.

Selanjutnya Datuk Patih membagi tugas kepada semua rombongan menjadi tiga rombongan sebagai berikut  :

 

1.  Rombongan yang menyiapkan perbekalan dipimpin

     Oleh Datuk Bendahara.-

2.  Rombongan yang memperbaiki Perahu dan Rakit dipimpin oleh Panglima Besar Kerajaan.

3.         Rombongan untuk mendakan hiburan dan pameran dipimpin oleh Wakil Datuk Temenggung.

 

Sejak kedatangannya di Pelabuhan Kota Malaka Raya rombongan Rakit Kulim ini sangat menarik perhatian masyarakat di Kota malaka sehingga mereka sangat ingin melihat langsung keadaan didalam Rakit dan Perahu namun merasa segan karena takut tidak diperbolehkan.Mendengar bahwa rombongan Rakit akan mengadakan hiburan dan pameran di Pelabuhan, Masyarakat Kota Malaka datang berbondong bondong untuk menyaksikannya.Para pengunjung diberi kebeba san naik ke Rakit serta Perahu untuk melihat dan bermain dengan berbagai jenis binatang yang sudah jinak jinak.

Didaratan dekat pelabuhan mereka dapat menyaksikan atraksi berbagai kesenian asli masyarakat Kerajaan Kelayang seperti  :  Lukah Gila  (menari ) ; Ranggung ; Dabus ; Tandak ( Joget ) ; Peragaan Bela Diri Silat serta pameran berbagai macam makanan tradisional khas masyarakat Kerajaan Kelayang seperti  : Bolu Berendam ; Kue Asidah ; Roti Jala ; Bubur Pedas ; Kue Ganti Rupe Ganti Rase ; Kue Jala Emasdan Jala Perak Masakan asam pedas ; Asam Durian ( Tempoyak ) dan lain lainnya.

Selama rombongan Kesenian dan Pameran sibuk mengadakan pertunjukan,rombongan lainnya sibuk melaksanakan pekerjaannya masing masing untuk memperbaiki perahu dan peralatan yang rusak serta menambah perbekalan untuk pulang agar perjalanan tidak ada hambatan .Tidak sampai seminggu semua pekerjaan dapat diselesaikan.

Melihat segala keperluan dan pekerjaan memperbaiki Rakit serta Perahu telah diselesaikan,Datuk Patih sege-ra menghadap kepada Raja Narasinga Dua untuk mela-porkan bahwa rombongan sudah siap untuk diberang-katkan.Setelah mendengar Laporan Datuk Patih Raja Narasinga Dua menyatakan kesediaannya untuk ikut pergi dengan rombongan ke Kerajaan Kelayang dan memerintahkan Datuk Patih memberi tahu kepada semua rombongan untuk berangkat besok sebelum su-buh.Raja Narasinga Dua berpesan kepada Datuk Patih agar tidak memberitahukan keberangkatan mereka kepada siapapun juga ( orang yang ada di lingkungan Istana ) terkecuali dengan orang yang ada di Rakit. 

Setelah mendapat petunjuk dari Raja Narasinga Dua Datuk Patih kembali ke Rakit untuk memberitahukan berita yang diterimanya kepada semua anggota rombo-ngan agar mereka dapat menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan,sehingga rombongan dapat berangkat tepat pada waktunya.Selanjutnya Datuk Patih memberi pengarahan kepada ketua ketua kelompok sebagai berikut  :

Agar pagelaranKesenian dan Pameran ditutup lebih awal dari pada biasanya dengan maksud agar mereka dapat beristirahat dan mempersiapkan diri untuk berangkat esok hari.

Menyiapkan acara penyambutan kedatangan Raja Narasinga Dua ke Rakit.Untuk acara penyambutan Datuk Patih memerintahkan kepada semua anggota rombongan agar memakai pakaian kebesaran mere-ka masing masing.Sedangkan para pengawal dipe-rintahkan untuk memakai pakaian seragam lengkap dengan persenjataannya.

Acara penyambutan Raja Narasinga Dua dimulai sejak dari pintu masuk pelataran pelabuhan sampai kedalam Rakit dan Perahu.Dipintu masuk pelataran pelabuhan Raja Narasinga Dua akan disambut dengan barisan kehormatan dari para pembesar Kerajaan Kelayang dan pasukan pengawal yang dipimpin oleh Datuk Patih dibantu oleh Datuk Temenggung.Sedangkan ditangga Rakit,Raja Narasinga Dua akan disambut oleh Datuk Bendahara,Pangloma Besar Kerajaan dan pasukan pengawal serta pemuka Adat.

                                                                               

  1. Raja Narasinga Dua Berangkat Ke Kerajaan Kelayang.

Pada waktu dan hari yang sudah ditetapkan,saat men-jelang subuh terlihat terjadi kesibukan disekitar Pelabu han Malaka maupun diatas Rakit dan Perahu yang ada dipelbuhan.Seluruh awak Rakit dan Perahu berpakai-an lengkap sesuai dengan tugas jabatannya. Demikian pula halnya dengan para pembesar Kerajaan mereka memakai pakaian kebesarannya masing masing siap menyambut kedatangan Raja Narasinga Dua.Dipinggir pelabuhan dekat rakit terlihat petugas mem-bawa payung kebesaran Kerajaan bernama payung ubur ubur berwarna kuning dihiasi dengan jumbai jum bai dan manik manik menambah keindahan payung kebesaran tersebut.

Dikiri kanan petugas pembawa payung terlihat empat orang pengawal berpakaian lengkap dengan senja-tanya.

Dengan hati berdebar debar mereka menantikan kedatangan junjungannya Raja Narasinga Dua yang selama ini hanya dikenal namanya saja namun mereka belum pernah melihat wajahnya.Peristiwa ini merupa-kan peristiwa yang paling bersejarah bagi mereka dan seluruh rakyat yang ada di Kerajaan Kelayang.Karena meskipun Kerajaan Kelayang telah menjadi bagian dari Kerajaan Malaka Raya dan Raja Malaka telah empat kali menobatkan Putra Mahkotanya menjadi Raja di Kerajaan Kelayang namun Raja Pertama, Kedua dan Ketiga tidak pernah datang dan menetap di Kerajaan Kelayang.Baru Raja keEmpat inilah ( Nara-singa Dua) yang mau datang dan  menetap di Kerajaan Kelayang.

Saat menjelang subuh ketika para penghuni Istana Kerajaan Malaka Raya sedang lelap dalam tidurnya diam diam Raja Narasinga Dua meninggalkan Istana Kerajaan Malaka Raya diantar oleh Tun Kecik dan beberapa pengawal  menuju ke Pelabuhan.Sampai di pelabuhan Raja Narasinga Dua disambut oleh Datuk Patih,Wakil Datuk Temenggung,Panglima Besar serta pembesar Kerajaan Kelayang dan barisan pengawal yang berbaris dikiri kanan jalan sampai ke Rakit.

Dengan dipayungi Payung Ubur Ubur Raja Narasinga Dua melangkah menuju Rakit diiringi oleh Datuk Patih  Datuk Temenggung,Panglima Besar Kerajaan dan para pembesar Kerajaan Kelayang serta para pengawal.

Ketika Raja Narasinga Dua menginjak lantai Rakit ditepung Tawari oleh Datuk Bendahara kemudian Tetua Pemangku Adat menaburkan Beras Kunyit. Setelah Raja Narasinga Dua dan pembesar Kerajaan Kelayang serta seluruh pengawal naik keatas kendera-annya masing masing tali penambat Rakit dan Perahu mulai dilepas.

Dengan mengikuti arus rombongan Rakit Kulim yang membawa Raja Narasinga Dua mulai bergerak mening-galkan pelabuhan Malaka Raya.Diiringi dengan lambai an tangan dan linangan air mata Tun Kecik serta para pengawal Kerajaan Malaka Raya yang sangat setia kepada Raja Narasinga Dua Rakit Kulim menuju ke Laut lepas.Setelah Rombongan Rakit Kulim hilang dari pandangan mata barulah mereka meninggalkan pelabu han kembali ke Istana Kerajaan Malaka Raya.

Keesokan harinya penduduk Kota Malaka menjadi gempar karena seluruh rombongan Rakit Kulim dari Kerajaan Kelayang sudah tidak ada lagi di Pelabuhan Malaka Raya.Mereka menjadi heran dan Kecewa karena selama berada di Kota Malaka rombongan Rakit Kulim telah memberikan berbagai hiburan yang sangat menarik kepada mereka.

Kegemparan juga terjadi didalam lingkungan Istana Kerajaan Malaka Raya setelah mereka mengetahui Raja Narasinga Dua yang telah dinobatkan menjadi Raja Ke Empat di Kerajaan Kelayang juga hilang dari Istana bersamaan dengan hilangnya rombongan Rakit Kulim dari Pelabuhan.Sehingga timbul berbagai isi dilingkungan Istana Kerajaan Malaka Raya.

Ada yang mengatakan bahwa Raja Narasinga Dua telah diculik oleh orang orang yang ada di Rakit Kulim dan ada pula yang mengatakan karena takut dibawa ke Kerajaan Kelayang sehingga Raja Narasinga Dua lari meninggalkan Istana Kerajaan Malaka Raya.

Hanya beberapa orang penghuni Istana Kerajaan Malaka yang tidak kaget dengan hilangnya Raja Narasinga Dua dari Istana dan hilangnya rombongan Rakit Kulim dari Pelabuhan.Mereka adalah Tun Kecik beserta para pengawal setianya serta Sultan Mahmud Kedua yaitu sultan Kerajaan Malaka Raya yang berkuasa pada waktu itu.

Sultan Mahmud Kedua tidak merasa heran dan kaget ketika para pembesar Kerajaan melaporkan perihal hilangnya Raja Narasinga Dua dari Istana dan hilang-nya rombongan Rakit Kulim dari Pelabuhan.

Sultan Mahmud Kedua kelihatan tenang tenang saja bahkan Ia tidak ada menyuruh orang untuk mencari Raja Narasinga Dua.Hal ini disebabkan  :

Karena sebelum berangkat bersama dengan rom-bongan Rakit Kulim ke Kerajaan Kelayang, Raja Narasinga Dua bersama Datuk Patih telah menyam-paikan maksud kedatangan Rombongan  Rakit Ku-lim kepada Raja Mahmud Kedua yang mengharap-kan agar Raja Narasinga Dua ikut bersa ma Datuk Patih ke Kerajaan Kelayang dan menetap di Kela-yang bersama rakyatnya.Karena Rakyat di Keraja-an Kelayang saat itu sangat membutuhkan kehadi-ran dan kepemimpinannya untuk menyelesai kan segala permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Sultan Mahmud Kedua yang telah merampas kekasih Raja Narasinga Dua merasa sangat senang bila Raja Narasinga Dua tidak ada lagi di Istana Kerajaan Malaka Raya,karena Rakyat di Kerajaan Malaka Raya sangat senang dengan Raja Narasinga Dua.Sehingga bila Raja Narasinga Dua masih bera-da di Kerajaan Malaka Raya Sultan Mahmud kedua merasa terancam kedudukannya.

Sesuai dengan undang undang di Kerajaan Malaka Raya,apabila keturunan Raja Malaka Raya pupus maka yang berhak menduduku Tachta Kerajaan Malaka Raya adalah keturunan Raja Raja dari Kerajaan Kelayang / Indragiri.Dengan hilangnya Raja Narasinga Dua dari Istana Kerajaan Malaka Raya,Sulatn Mahmud Kedua bebas beruat sesuka hatinya karena tidak ada lagi yang menghalanginya.

Setelah melakukan perjalanan jauh yang cukup lama dan melelahkan akhirnya disuatu hari menjelang senja Datuk Patih melaporkan kepada Narasinga bahwa tidak lama lagi mereka akan memasuki muara Sungai Keruh dan sebelum matahari terbenam mereka sudah sampai di Kampung / Desa Perigi Raja.Mendengar laporan Datuk Patih iniNarasinga pergi ke anjungan belakang Rakit seraya melepaskan panda-ngannya ke laut lepas.Samar samar Narasinga melihat Gunung Daek menjulang tinggi . Setelah melihat Gunung Daek Narasinga menarik nafas panjang.Untuk menghilang-kan kepedihan hatinya Ia berpantun  :

 

   Kapal berlabuh membuang sauh

   Agar tak hanyut oleh gelombang

   Meskipun diriku kini jauh

   Kampung halaman tetap kukenang

                                      

   Gunung Daek bercabang tiga

   Dilingkung hutan berjuta tahun

   Jantung hati terkenang juga

   Dikenang sampai beribu tahun

 

Selanjutnya Narasinga mengarahkan pandangannya ke arah Kota Malaka dan Ia melihat bayangan Gunung Ledang menjulang tinggi keangkasa.Melihat bayangan gunung ledang ini membangkitkan kenangan pahit Narasinga kepada Tun Gemala yang saat itu telah menjadi Permaisuri Sultan Mahmud Kedua.Untuk mengobati hatinya yang lara terdengar suara Narasinga berpantun   :

                                      

   Gunung Ledang diliputi awan

   Dari jauh nampaknya biru

   Bila terbayang wajahmu puan

   Hati didalam bertambah pilu

 

   Burung terbang pulang kesarang

   Pulang kesarang diwaktu senja

   Kekasih hati miliknya orang

   Hamba tak dapat numpang bermanja

 

Tingkah laku Raja yang masih bujangan ini tidak luput dari perhatian Datuk Patih.Dari pantun pantun yang dilantunkan oleh junjungan ini Datuk patih maklum bahwa junjungannya sedang mengalami patah hati. Melihat junjungannya yang sedang lara Datuk Patih menghiburnya dengan pantun  :

 

   Gunung Ledang di Negeri Malaka

   Gunung Tujuh Istana Putri

   Tun Gemala Hilang janganlah iba

   Dang Purnama kelak yang mengobati.

                                      

Mendengar pantun yang diucapkan oleh Datuk Patih Narasinga jadi tersenyum senyum karena Ia maklum akan maksud baik dari orang besar Kerajaan Kelayang ini untuk menhibur dan mengingatkan dirinya agar tidak larut dalam kesediahan karena tugas berat sedang menantinya.

Yang dimaksud Dang purnama oleh Datuk Patih tadai adalah saudara sepupu dari Raja Narasinga Dua, karena Dang Purnama adalah anak kandung dari RAJA TUBUN dan ibunya bernama DANG SRI BENIAN yang bersemayang di Istana Pagaruyung Gunung Tujuh Talang Lakat.-

            Raja Tubun adalah adik kandung Raja Merkang Kedua Gelar Sultan Jamaluddin Inayatsyah yang menjadi Raja Ke Tiga di Kerajaan Kelayang.Datuk Patih memang sengaja tidak mau menceritakan kepada junjungannya.Biarlah Narasinga sendiri yang membuk-tikan bagaimana cantiknya Putri Dang Purnama yang menjadi kebanggaan rakyat di Kerajaan Kelayang.

Selanjuutnya Datuk Patih menemani jujungannya minum kopi sambil menjelaskan keadaan yang sedang dialami oleh Pemerintah dan rakyat yang ada di Kera-jaan Kelayang serta merundingkan langkah langkah yang akan diambil untuk menyelesaikan segala perma-salahan yang ada.Dalam temu ramah tersebut juga dibicarakan rencana untuk memperbaiki Tata Pemerin tahan di Kerajaan Kelayang.Menjelang malam Rombo-ngan Raja Narasinga Dua sampai di Desa Perigi Raja yang letaknya tidak jauh dari Muara Sungai Keruh.

Berita kedatangan Raja Narasinga Dua sudah terlebih dahulu sampai di Perigi Raja yang dibawa oleh para nelayang yang kebetulan berpapasan dengan rombo-ngan ini kemudian mereka melaporkannya kepada Kepala Desanya.Mendengar laporan para nelayan terse but Kepala Desa segera memerintahkan masyarakatnya untuk mengadakan persiapan penyambutan kedata-ngan Raja Narasinga Dua dan rombongan.

Mendengar perihal kedatangan Raja Narasinga Dua ke Desanya rakyat Perigi Raja segera menyalakan obor didepan rumahnya masing masing terutama sepanjang jalan yang akan dilewati oleh Raja dan rombongan milai dari Rumah Kepala Desa sampai ke Pelabuhan. Setelah memasang obor mereka berbondong bondong menuju ke Pelabuhan untuk menyambut kedatangan Raja karena mereka ingin melihat wajah junjungannya yang sudah lama mereka nanti nantikan ini lebih dekat.

Raja Narasinga Dua memerintahkan rombongannya singgah di Desa Perigi Raja dan menginap di Desa ini selama satu malam.Begitu Narasinga menginjakkan kakinya dipelabuhan Ia disambut dengan acara adat dengan renjisan tepung tawar dan taburan beras kunyit yang dilakukan oleh pemuka adat setempat.Selanjutnya Raja dan pembesar Kerajaan dipersilahkan menuju ke rumah kediaman Kepala Desa untuk beristirahat.

Setelah beristirahat Raja dipersilahkan mandi disebuah perigi air tawar.Daerah ini ditemukan oleh Datuk Sakti ketika Ia sedang melakukan pengembaraan mencarai daerah daerah yang subur untuk dikembangkan menja di daerah Perkampungan dan Persawahan.

Karena merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh Datuk Sakti  memutuskan berhenti ditempat terse-but untuk melepaskan lelahnya sambil berbaring.

Tanpa disadarinya karena kelelahan Datuk Sakti terti-dur ditempat tersebut.Dalam tidurnya Datuk Sakti ber-mimpi bertemu dengan seorang yang berpakaian Raja dan orang tersebut memberi petunjuk pada  Datuk Sakti untuk membuat sebuah perigi ditempat tersebut dengan cara menikamkan Keris Bintang Beralih milik Datuk Sakti ketanah.Setelah memberi petunjuk orang tersebut hilang dari mimpinya dan Datuk Sakti terjaga dari tidurnya.

Sesuai dengan petunjuk yang diterimanya Datuk Sakti mencabut Keris Bintang beralih dari sarungnya kemu-dian keris tersebut ditancapkannya ke tanah. Setelah Keris dicabut,dari lubang bekas keris tadi memancar air yang sangat jernih dan lubang tersbut makin lama makin melebar sehingga sebesar perigi.

Kemudian Datuk Sakti mengambil air yang memancar tersebut dengan kedua telapak tangannya lalu diminum nya dan ternyata air tersebut terasa tawar . Karena orang yang memberi petunjuk kepadanya berpakaian seperti Raja Datuk Sakti memberi nama daerah terse-but dengan nama  : “ PERIGI RAJA “ . Lambat laun daerah ini berkembang menjadi sebuah perkampungan yang cukup ramai karena adanya sumber mata air tawar yang dibuat oleh Datuk Sakti.Setelah mandi di Perigi Raja,Raja Narasinga Dua beserta pembesar Kerajaan dipersilahkan bersantap malam bersama pemuka pemuka masyarakat setempat.

Selesai bersantap Raja Narasinga mengadakan temu ramah dengan Kepala Desa dan pemuka pemuka masyarakat dan dihadiri oleh pembesar Kerajaan Kelayang.Dalam temu ramah tersebut Raja Narasinga menanyakan tentang keadaan dan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat.Selanjutnya Raja Narasinga memberikan petunjuk cara untuk mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi dan Beliau meng-harapkan adanya kerja sama yang baik antara masya-rakat,Cerdik Pandai,Alim Ulama,Pemuka Adat dan Kepala Desa dengan tetap menjaga rasa persatuan dan kesatuan,dengan demikian segala permasalahan dapat diselesaikan.

Setelah selesai mengadakan musyawarah malam itu rombongan Raja dihibur dengan acara kesenian Tan-dak ( Joget ) Dangkung yang berlangsung hingga larut malam.Keesokan harinya pagi pagi sekali rombongan Rakit Kulim Raja Narasinga telah meninggalkan Desa Perigi Raja untuk melanjutkan perjalanannya kearah Hulu Sungai Keruh.

Hari berikutnya rombongan sampai di Desa PEKAN TUA dan Narasinga memerintahkan rombongan sing-gah di Desa tersebut sehingga para pendayung dapat beristirahat . Kesempatan tersebut dimanfaat Raja untuk mengadakan temu ramah dan memberikan petunjuk petunjuk kepada mereka . Karena merasa tertarik dengan situasi dan kondisi alam di Pekan Tua Selanjutnya Raja Narasinga melakukan  peninjauan disekitar Desa Pekan Tua.

Setelah melihat situasi dan kondisi Daerah Pekan Tua,dalam hati Narasinga berkata bahwa di Daerah ini cocok untuk dibangun sebuah istana karena letaknya sangat strategis dan jaraknya tidak terlalu jauh dengan Kerajaan Malaka Raya sehinga bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagi kedua Kerajaan mereka dengan cepat dapat saling membantu.Namun niatnya tersebut tidak diutarakannya kepada para pembesar Kerajaan Kelayang.Selesai makan siang rombongan Raja Narasinga melanjutkan perjalanannya menuju ke Negeri Kelayang.

Pada suatu hari Dalam perjalanan menuju Negeri Kelayang Raja Narasinga tertarik melihat kegiatan yang sedang dilakukan oleh masyarakat disuatu tempatdipinggir Sungai Keruh.Masyarakat ditempat tersebut sedang mengumpulkan berbagai hasil hutan berupa : Rotan ; Damar ; Gaharu dan berbagai jenis kayu  seperti : Resak ; Kulim ; Rengas dan Meranti.Yang membuat Narasinga tertarik adalah ketika mereka minum diwaktu istirahat.Mereka minum tidak sebagaimana lazimnya dilakukan oleh kebanya-kan orang yaitu minum air yang dibawa mereka dari rumah.Sedangkan orang orang tersebut meminum air yang keluar dari ujung potongan akar yang dipotong oleh mereka . Ini dilakukan mereka berulang kali sampai dahanya hilang.

Hal inilah yang membuat Raja Narasinga merasa aneh dan tertrik sehingga Ia memerintahkan rombongan  singgah ditempat tersebut untuk beristirahat sambil melihat kegiatan yang sedang mereka lakukan . Tali Rakit mereka tambatkan di batang durian yang berada di pinggir Sungai Keruh sedangkan perahu lainnya ditambatkan pada batang batang kayu yang banyak tumbuh tidak jauh dari tempat tersebut.

 Setelah Rakit ditambat Narasinga naik ke darat untuk beramah beramah tamah dengan pencari hasil hutan tersebut.Narasinga mengutarakan rasa ingin tahunya tentang air akar kayu yang diminum oleh mereka.Salah seorang dari mereka menjelaskan kepada Raja Nara-singa bahwa apa yang dilakukan oleh mereka tersebut sudah menjadi kebiasan yakyat ditempat tersebut. Untuk menghemat tenaga bila pergi kehutan dari rumah mereka hanya membawa peralatan Kapak ; Parang dan bekal nasi serta lauknya saja.

Sedangkan untuk air minum mereka tidak pernah membawa dari rumah karena dihutan tempat mereka bekerja banyak akar akar kayu yang mengandung air.Jadi bila merasa haus mereka cukup memotong akar kayu tersebut sepanjang lebih kurang satu hasta.Dari ujung ujung akar kayu yang dipotong tersebut akan keluar air dan air itulah yang diminum oleh mereka untuk melepas dahaga.Manfaat yang mereka rasakan setelah minum air dari akar kayu tersebut dapat menambah tenaga,mencegah dan mengobati sakit perut serta penyakit demam kure kure ( Malaria ).

Mendengar keterangan tersebut Narasinga merasa sangat tertarik dan ingin mencobanya.Ia menyuruh salah seorang dari mereka mencarikan jenis akar kayu yang sama.Orang yang diperintah tersebut segera mencarikan akar kayu yang dimaksud,setelah didapat diserahkannya pada junjungannya.Ternyata memang benar apa yang telah dikatakan oleh mereka,dari ujung potongan akar kayu tersebutkeluar air yang jernih dan Narasinga lalu meminumnya.

Namun setelah air dari potongan akar tersebut sampai kemulut Narasinga ternyata airnya terasa pahit. Mendapat kenyataan ini Narasinga berkata kepada Datuk Patih sebagai berikut  :  Patih,karena air yang hamba minum dari ujung akar kayu ini rasanya pahit, maka daerah ini hamba beri nama : BATANG PAHIT. Daerah batang pahit ini berada dipinggir Sungai Keruh / Sungai Indragiri dan sekarang berada didalam Wilayah Desa Danau Baru Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu.

Setelah makan siang bersama pencari hasil hutan tersebut Rombongan Rakit Kulim Raja Narasinga tersebut melanjutkan perjalanan menuju Negeri Kelayang yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Kelayang.Karena melihat situasi dan kandisi selama rombongan dalam perjalanan aman maka Datuk Patih memerintahkan Datuk Bendahara , Pejabat yang mewakili Datuk Temenggung dan Panglima Besar Kerajaan berangkat mendahuli rombongan Ke Negeri Kelayang dengan membawa lima buah perahu penga-wal untuk memberi tahu masyarakat dan menyiapkan acara penyambutan Raja Narasinga Dua di Kerajaan Kelayang.Pembesar Kerajaan bersama rakyat menyam but dikiri kanan jalan mulai dari Batu Kerbau sampai di Halaman Istana Kerajaan Kelayang.

 

  1. Raja Narasinga Dua Tiba Di Kerajaan Kelayang.

 

Tiga hari kemudianbersamaan dengan terbitnya mata hari terlihat rombongan Rakit Kulim yang membawa Raja Narasinga Dua mendekati pelabuhan Kerajaan Kelayang yang berada di Batu Kerbau.

Pagi itu Raja Narasinga Dua , Datuk Patih dan pembesar kerajaan yang ada di Rakit dan Perahu serta para pengawal sudah memakai pakaian kebesaran masing masing dan berdiri diatas geladak kederaannya masing masing. Sedangkan Raja Narasinga dan Datuk Patih berdiri dihaluan Rakit dikawal oleh enam orang pengawal yang berdiri dikiri kanannya.Panji panji kebesaran Kerajaan Kelayang sudah dipasang di Rakit dan semua perahu pengawal sehingga rombongan terlihat gagah dan angker.

Pagi itu Raha Narasinga melihat banyak rakyat yang berdiri ditepi Sungai Keruh melambai lambaikan tangan padanya seraya meneriakkan : Daulat Tuanku ; Daulat Tuanku ; Daulat Tuanku berulang kali dan dibalas oleh Raja Narasinga , Datuk Patih serta pembesar Kerajaa  yang ada di Rakit dan Perahu juga para pengawal dengan melambaikan tangannya.Sayup sayup Narasinga mendengan suara celempong ; tawak tawak ; Gendang Silat dan Gendang joget menambah semaraknya suasana pagi itu.

Tidak lama kemudian rombongan Rakit dan perahu perahu pengawal sudah sampai dan merapat kepelabuhan Batu Kerbau dan Tali Rakit ditambatkan disebuah batu besar berbentuk seperti kerbau, sedang-kan perahu perahu pengawal ditambatkan pada pohon pohon yang banyak tumbuh disekitar tempat tersebut.

Setelah Rakit dan Perahu perahu ditambatkan Raja Narasinga turun dari Rakit dipayungi dengan payung ubur ubur warna kuning berlambang Naga sedang menganga didampingi oleh Datuk Patih melangkah menuruni anak tangga Rakit melangkah ke Pelabuhan.

Begitu Raja Narsinga menginjakkan kakinya ditanah disambut dengan renjisan Tepung tawar dan taburan beras kunyit oleh Datuk Sakti selaku pendiri Kerajaan Kelayang mewakili seluruh rakyat yang ada di Kerajaan Kelayang dan mengucapkan selamat datang kepada Raja Narasinga Dua di Kerajaan Kelayang. Selanjutnya Datuk Sakti mempersilahkan Raja Nara-singa dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Istana Kerajaan Kelayang.

Disepanjang jalan yang dilewati mulai dari pelabuhan Batu Kerbau sampai ke Halaman Istana Kerajaan Kelayang Raja Narasinga melihat rakyatnya berdiri dikiri kanan jalan menyambut kedatangannya dengan melambaikan tangan seraya meneriakkan Daulat Tuanku ; Selamat datang Tuanku.Baru kali inilah rakyat di Kerajaan Kelayang berkesempatan melihat wajah dari junjungannya.Karena sudah tiga orang Raja dari Kerajaan Malaka Raya yang dinobatkan menjadi Raja di Kerajaan Kelayang namun mereka tidak pernah datang dan menetap di Kerajaan Kelayang sehingga rakyat tidak pernah kenal dengan Rajanya.

Sesampainya Raja Narasinga Dua dihalaman Istana disambut dengan atraksi silat persembahan oleh pengawal Istana.Selesai acara silat persembahan Raja Narasinga dan rombongan dipersilahkan masuk kedalam Istana untuk melihat lihat keadaan Istana dan setelah mengadakan penijauan Raja Narasinga dipersilahkan masuk kedalam ruangan pertem

Dilihat 127 kali.


Artikel

 

Artikel Lainnya »